Sejarah

SMA AL HIKMAH DUA berdiri pada tahun 1987 dibawah naungan Yayasan Podok Pesantren Al Hikmah Dua. Menempati tanah seluas 12.500 m2 dengan luas bangunan 1005m2 terpadu dengan kawasan pondok pesantren al hikmah dua.

Cikal bakal berdirinya pondok pesantren itu sendiri, tak lepas dari upaya KH. Cholil bin Mahali. Tahun 1911 beliau  menghimpun para santri yang datang dari beberapa desa untuk menimba ilmu kepadanya. Para santri yang datang saat itu ditampung di kamar belakang masjid dan rumah beliau Sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif. Pengajian yang diberikan saat itu adalah pengajian kitab tauhid, Fiqih, Quran mujawwad bin Nadhar. Di samping membina para santri, Kyai lulusan pesantren Mangkang, Semarang itu mengadakan pengajian dari pintu ke pintu rumah penduduk. Dari surau ke surau yang ada di desa tersebut. Pola ini dilakukannya selama 10 tahun. Pendekatan yang dipakai saat itu adalah bilhikmati wal mauidatil hasanah ( kebijaksanaan, nasihat baik dan keikhlasan berdakwah ).

Tahun 1922 KH. Suhaimi bin Abd Ghoni - anak dari kakak KH. Kholil pulang dari Makkah. Dengan usaha yang keras, mereka berdua mengembangkan bangunan pesantren yang ada sejak tahun 1911. Maka  1926 tewujudlah pondok khusus takhfidz al Quran, dan setelah itu berturut-turut,  mereka berhasil mendirikan  sembilan buah ruangan untuk asrama para santri. Sejak itu arah dan system pendidikan pun segera ditancapkan. Ada dua program yang dikembangkan. Pertama, menyelenggarakan pengajian kitab kuning yang diasuh oleh KH. Cholil. Kedua, pelajaran Tahfidzul Quranyang diasuh KH. Suhaemi.     Maka pada tahun 1929 didirikanlah Madrasah Ibtidaiyah Diniyyah, dan mendapat izin operasional dari pemerintah Belanda pada tahun 1931.

Tidak sia-sia pembinaaan yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh beliau, hal ini terbukti pada tahun 1932 dari sejumlah santri yang menghafal al Quran sudah ada lulusan santri yang khatam bil ghoib. Dengan prestasi inilah pesantren Al hikmah mulai mencuat namanya  ke berbagai daerah. Seiring dengan perkembangan tersebut maka kegiatan pesantren ini menjadi lebih komplek dan semarak. Maka kegiatan yang ada tidak hanya sebatas  menghafal alquran tetapi sudah dibarengi dengan pendalaman dan pengajian kitab kuning oleh tanaga-tenaga muda alumnus dari berbagai pesantren- yang antara lain ust. Faozan Zaen dari Rembang jawa tengah  ( sebagai santri yang takhaffudz sekaligus pengajar kitab kuning )

Penyelenggaraan pendidikan Al hikmah hingga tahun 1947, dapat dikatakan berkembang pesat. Bahkan selama periode itu, pihak pesantren ini juga sempat mengembangkan program secara lebih ragam, yaitu bidang Qairoatul Kutub, Qiroatul Quran: binnadhar, bil ghaib,  Bittaghoni( membaca Al Quran dengan dilagukan ), sistem madrasi ( klasikal), majlis taklim untuk umum, dan dakwah keliling ke bebrapa daerah.

Namun perkembangan lembaga pendidikan itu sempat terhenti. Terutama setelah peristiwa pembakaran pondok dan pembunuhan sejumlah ustad dan santri oleh penjajah Belanda, tahun 1947 - 1948. Di antara para ustadz yang gugur adalah KH. Ghozali, H. Miftah, H. Masyhudi Amin bin H. Animah, Sukri, Daad, Wahyu, Siroj, dll.  Selama tujuh tahun berikutnya, laju perkembangan terhenti. Tindakan ini terpaksa dilakukan untuk menghindari penangkapan yang dilancarkan oleh Belanda. Selama tujuh tahun itu pula, kyai Suhaemi mengungsi ke tempat yang lebih aman, sedangkan  KH. Cholil bersama menantunya KH. Ali Asyari dan kawan-kawan melestarikan secara diam-diam lembaga pendidikan yang ada.

Setelah keadaan aman, maka dibangunlah kembali  bagian-bagian yang hancur, sebagian  dibangun untuk menetap para santri. Sedangkan sebagian yang lain digunakan untuk mendirikan madrasah ibtidaiyah. 

Kini, sepeninggal KH. Kholil dan KH. Suhaimi, Alhikmah telah tumbuh dan maju dengan pesat. Pesantren ini mempunyai dua pengasuh utama yakni KH. Sodik (putra almarhum KH. Suhaemi yang wafat tahun 1965) dan KH. Masruri Abdul Mughni (cucu Almarhum KH. Cholil 1955). Lembaga ini menempati areal seluas enam hektar. Tidak kurang sekitar 6500 orang santri mondok di pesantren ini. Pada areal tanah seluas itu, berdiri sebuah masjid berukuran 25 X 30 meter. Asrama santri putra sebanyak 99 kamar. Asrama santri putri 125 kamar. Para santri yang menginap di pontren ini, tidur secara masal 10 hingga 20 orang. Selain itu disediakan pula kamar khusus untuk santri lainya. Terutama untuk mereka yang menderita suatu penyakit.